Lengkingan Viola Desingan Peluru
1. Cerpen Lengkingan Viola, Desingan PeluruLengkingan Viola, Desingan PeluruJika aku bisa berjalan mundur, satu hal akan kuperbaiki, maka segalanya...
Also Available in:
- Amazon
- Audible
- Barnes & Noble
- AbeBooks
- Kobo
More Details
1. Cerpen Lengkingan Viola, Desingan Peluru
Lengkingan Viola, Desingan Peluru
Jika aku bisa berjalan mundur, satu hal akan kuperbaiki, maka segalanya mungkin berbeda. Tentang dirimu dan pertemuan ini. Tapi karena sekarang aku mencintaimu, itu tidak mungkin terjadi. Marilah mengingat-ingat yang lalu, agar kita paham apa yang harus dilakukan sekarang dan apa yang harus segera kita lupakan.
Karena kau pemain viola yang hebat, maka aku jatuh cinta. Walau permainanmu yang pertama kulihat, yang membuatku jatuh cinta, ternyata adalah permainan yang paling biasa dari sekian notasi rumit yang pernah kau mainkan. Sebuah lagu anak muda tentang utopia cinta. Kau ingat seorang wanita yang lebih bangga mengenalkan diri sebagai tetanggamu daripada menyebutkan namanya? Bagi wanita itu kehebatanmu adalah kehebatannya juga. Darinyalah aku mengetahui banyak hal tentangmu. Tanpa diminta ia bercerita panjang lebar. Katanya, rumah kalian bersebelahan. Waktu kecil kalian sering mandi bersama, bergandengan tangan pergi ke surau, dan katanya lagi, kau pernah mencium wanita itu waktu kalian bersembunyi di balik semak-semak saat bermain petak umpet. Tapi aku tak memercayainya. Kau pernah bermain di Jepang, Thailand, Singapura, Italia—bermain di gondola menyusuri lorong-lorong Venezia, di Central Park New York, dan banyak lagi tempat yang ternyata sulit dilafalkan oleh wanita itu. Yang terakhir ia pun berkata “Kalau jadi tahun depan Jamin akan menikah dengan sepupuku. Puteri seorang jenderal,” seringai kemenangan menyertai kalimatnya itu. Aku juga tersenyum, dan diam-diam mengucapkan janji, pernikahan itu tak akan terjadi.
Kau bertanya padaku berapa jumlah dawai viola. Dengan marah karena merasa dianggap bodoh aku menjawab, tentu empat. Menurutmu para maestro juga mengawali kerja keras mereka dengan pertanyaan sederhana itu. Ketika pertama kali kau melihat bentuk viola, kau hanya diperbolehkan untuk membelainya, mencium dan menerka-nerka wangi yang menyeruak dari rongganya, merasakan halusnya serat penggesek yang terbuat dari ekor kuda siberia, dan mendengarkan denting dawainya pelan-pelan. Selama beberapa hari hanya itu yang kaulakukan. Tak ada maksud lain kecuali agar jiwamu menyatu dengan viola itu, agar kau dapat menyatukan perasaan saat memainkannya kelak. Aku mengingat cerita itu dengan baik, Jamin. Sejak saat itu aku berusaha mencari tahu segala hal yang berhubungan dengan viola dan musik. Aku mendengarkan semua lagu atau instrumen yang tampaknya mengandung lengkingan viola. Di antaranya, lagu klasik betul-betul menderitakanku.
Karena kau begitu mahir bermain kata-kata, maka aku jatuh cinta. Hidup adalah rasa heran tiada henti, kataku. Hidup adalah resah berkepanjangan, jawabmu. Sepi melewatkan perjalanan matahari sendirian, kataku. Hari tidak akan menjadi hari tanpa melihat taringmu yang gemerlapan, jawabmu. Kau telah kumenangkan, aku tak bisa berpaling, kataku. Apapun, jika itu kau, bawah sadarku membimbing untuk dekat, jawabmu.
2. Cerpen Sebuah Pagi dan Sepucuk Pistol
Sebuah Pagi dan Sepucuk Pistol
Pada suatu pagi, Asing menemukan langit di depan kamarnya tidak berwarna. Ia sulit menentukan, apakah itu biru, putih, atau abu-abu. Demikian pula anginnya. Seperti dingin, seperti hangat. Hanya cahaya matahari yang mampu menjelaskan warna daun belimbing, antara cokelat, hijau, dan kuning. Daun itu seperti membuka jalan untuk Asing menemukan pengertian-pengertian.
Akan tetapi, begitu menemukan pengertian, Asing ingin segera melihat langit dan mencari-cari angin lagi. Suasana bingung menatap langit dan bertanya-tanya ketika diterpa angin tidak terasa sudah dinikmatinya bertahun-tahun dan entah mengapa, itu demikian nikmat. Momen kosong itu membuat segala tanggung jawab Asing menguap. Sementara daun belimbing, mengingatkannya pada jam dinding dan pertanyaan sudah pukul berapa ini. Mengingatkannya pada telepon dan dering nada panggilan mencemaskan. Mengingatkannya pada pistol dan rasa penasaran, siapa lagi nanti?
Karena tidak berwarna, maka langit adalah hamparan terbuka yang bisa diisi apa saja. Asing memilih meletakkan kenangan padanya. Ibarat lemari, memorinya dipenuhi temuan dan permainan masa kecil. Jika orang berkata kehidupan dimulai ketika kita beranjak tua, maka bagi Asing, kehidupan mati saat masa kanaknya habis.
Baiklah, setelah menyeruput kopinya, Asing memulai dengan menganggap langit berwarna putih, seperti hamparan tisyu gulung yang menggelinding. Tiba-tiba ia tersenyum, mengingat betapa heran dan takjubnya ia, ketika pertama kali menyentuh benda putih lembut itu. Seorang tetangganya, yang baru pulang dari luar negeri, membersihkan pipi dengan tisyu. Basah, lembut, dan wangi. Asing bertanya lugu, “Kertas apa ini?” Tetangganya tersenyum dan menjawab, “Ini namanya tisyu, Dik. Tisyu basah.” Asing ternganga, dan kemudian membawa pulang kertas basah wangi yang sudah kotor itu ke rumah. Butuh waktu lama untuk akhirnya Asing bisa membeli benda sejenis itu. Yang jelas dia sudah bukan anak-...
- Format:Paperback
- Pages:143 pages
- Publication:2012
- Publisher:Javakarsa Media
- Edition:I
- Language:ind
- ISBN10:
- ISBN13:
- kindle Asin:B0FSKPFGFD









